Home Kolom Sastra Mungkinkah Negara Ini Sedang Mencari Jati Diri?

Mungkinkah Negara Ini Sedang Mencari Jati Diri?

127
Penulis

KENDARI, RIGHTNEWS.ID – Saya belum tau, kemana yang benar arah berpikirku ini. Sampai hari ini, Seluruh stasiun Televisi Nasional masih sibuk menayangkan, berita demonstrasi 22 Mei, yang mana ada klaim, kegiatan itu diframing oleh sekelompok orang. Framing itu, sama dengan rangkaian niat jahat yang terstruktur dengan tujuan frontal.

Demonstrasi 22 Mei, memprotes keputusan KPU RI, terkait kecurangan pasangan Nomor urut 1 yang menang. KPU menuntaskan rekapitulasi nasional hasil Pilpres 2019, yang menyebutkan bahwa Jokowi-Ma’ruf Amin Menang. Jokowi-Ma’ruf mendapat 55.50%, sementara Prabowo-Sandi mendapatkan 44.50%.

Reaksi protes keras dengan gerakan masa ribuan orang menolak keputusan KPU RI. Hasil itu tak memuaskan publik, sepertinya begitu. Tapi, sebagian publik tetap sepakat tentang keputusan tersebut. Maka, gerakan islam mengatasnamakan masyarakat Indonesia, dibangun . Saya tetap kebingungan. Apa sebenarnya yang di protes. Apapula, gerakan 22 Mei itu, yang mayoritas, membawa nama agama.

Tidak perlu terlalu jauh berpikir. Sebab, menganalisa dengan pola pikir idealis, mungkin bahkan menimbulkan kesalahan. Misalkan, kalau kalian berprasangka buruk dengan keputusan KPU. Seperti, ada kecurangan. Hasilnya juga tetap sah. Karena yang umumkan adalah Pemerintah. Lalu, menuliskan protes, malahan aku takut, nantinya terkena Undang-Undang ITE.

Berlanjut dengan kesalahan berpikirku. Kalau saya menilai, apa yang sedang terjadi. Saya sebut saja, Negara kita sedang mencari jati dirinya. Masa, keputusan Pemerintah tidak diterima. Masyarakat harus tau, kalau Pemerintah sudah tak dipercaya, maka apalah arti sebuah Negara. Bubarkan saja Negara ini. Bukan begitu?

Gerakan penolakan keputusan Pemerintah, sampai terjadi dua hari. Masa menduduki, Kantor Bawaslu RI. Sebagian berpencar di Kantor KPU RI. Keributan terjadi, hingga bentrok dengan Kepolisian berjam-jam. Kekuatan People Power, yang disuarakan oleh Amin Rais, sepertinya mirip dengan kekuatan masa yang ada di depan Kantor Bawaslu dan KPU RI.

Tapi, lagi-lagi saya tidak masuk untuk menganalisa itu. Hanya kebingunganku, mengarah pada ucapan tersebut. Lalu, apakah masa yang melakukan aksi demonstrasi menolak keputusan Pemerintah, benar-benar kekuatan logis. Tulus dari hati nurani, bahwa pelecehan demokrasi telah dilakukan oleh Pemerintah.hmmmm?

Bahkan, tidak ada satu alasan pun yang bisa menyebut hal itu. Media sosial, sepertinya bisa menjawabnya. Banyak cuitan dan memei gratis yang muncul tanpa perlu mengeluarkan duit untuk mengapdute informasi saat ini. Dengan membuka aplikasi Watshap, Facebook, Twiter, kita bisa mendapat jawabannya. Begitupula dengan keributan demonstrasi yang terjadi karena keputusan KPU.

Sudah ada hidangannya, tinggal disantap saja. Seperti itulah informasi di media sosial. Tinggal bagaiamana kita mencernannya. Kalau dimakan baring, pasti tidak enak. Kalau disantap di meja makan, pastilah hidangannya akan terasa lezat. Informasi itu, perampaamaan dari makanan. Tergantung dari cara kamu, menerimannya dan menganalisannya.

Aksi 22 Mei, sangat bertentangan dengan aturan. Kalau kita meriview, larangan aktivitas demonstrasi, jelas. Misalkan pada Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998, tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Unjuk rasa atau demonstrasi dan pawai,di tempat terbuka antara pukul 06.00 s.d. pukul 18.00 waktu setempat.

Maka, kali ini saya membenarkan Polisi membubarkan masa yang melakukan aksi demonstrasi sampai tengah malam. Kericuhan di Jalan Tamrin, Jakarta dan Jalan Tambura, dipicuh dari pemaksaan pembubaran demonstrasi. Masa tak terima dibubarkan, hingga pecah dan akhirnya ricuh dengan Polisi.

Kepolisian bersihkukuh dengan aturan. Tapi, lagi-lagi kekuatan masa, dijawab dengan pembelaan demokrasi. Mereka memandang, Polisi bertindak anarkis dengan kebenaran tuntutan masa. Bahwa, ada yang tidak beres dengan hasil keputusan KPU RI. Maka, sebagian televisi memberitakan, tentang keanarkisan Polisi.

Polisi menempuh jalan buntu, dan terpaksa harus membubarkan masa. Apakah itu yang dibilang anarkis. Disisi lain, saya berpikir lagi, apa sebenarnya yang diinginkan dari masa tersebut.
Kalau menginginkan KPU untuk mencabut pernyataan, tentang keputusan itu, kan sangat tidak mungkin.

Malahan, protes keras dari masa, dihadapi dingin oleh TNI. Polisi tak cukup kuat dengan kekuatan ribuan masa saat itu. Sinegeritas dibangun dengan TNI, untuk membeckup Polisi dalam mengamankan, perpecahan di Jalan Tamrin. Saya tidak menyebut, bahwa TNI mendukung aksi itu. Tapi, saya melihat, TNI agak santun menghadapi masa.

Tayangan telvisi yang mengapdute informasi tersebut, terus saya pantau. Lewat live streaming, maupun melalui TV. Sehari setelah kerusuhan besar itu, TNI lebih mendekat kepada masa. Aksi kedua, TNI lebih persuasif dibanding polisi. Mungkin karena kostum yang sederhana. Ataukah karena seragam Polisi yang lebih menakutkan dengan tameng dan pentolan di tangan.

Tapi, otak ku masih bergurau. Saya belum mendapat jawabannya. Ada isu yang dibawa, bahwa framing itu benar dilakukan di aksi 22 Mei. Tapi, bagaimana dengan nama Islam yang dibawa saat itu. Sampai tulisan ini selesai, sebenarnya saya belum tau apa yang sedang terjadi dengan Negara ini. Apakah benar, Negara yang sudah 73 Tahun merdeka ini masih mencari jati diri.

Hanya karena, menentukan siapa Pemenang, sampai nyawa harus dikorbankan. Aksi 22 Mei yang berlangsung sampai hari ini, memakan korban. Seorang pendemo harus menghadap ilahi.


Ramadhan, 24 Mei, Kendari

 

Artikel Lainnya
Load More By rightnewskendari
Load More In Kolom Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Baca Juga

Polda Sultra Bubarkan Aksi Pengunjukrasa Dengan Helikopter

KENDARI, RIGHTNEWS.COM – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara mengerahkan hel…