Home Kolom Sastra Kumpulan Puisi Arwin Saputra

Kumpulan Puisi Arwin Saputra

271
Penulis. Arwin Saputra

BULUKUMBA, RIGHTNEWS.ID –

-Pinisi-Ta’-

Apa kabar ikon Bulukumba ta’?
Sosokmu yang dahulu gagah berdiri di lingkaran kota, menjadi pandang bagi mata, membuat kagum siapa saja. Rupamu tegap megah  menggertak belantara, kini bertukar mungil minor cekak seakan digertak sang kuasa diplomat.

Perencanaan anggaran yang agung dan harapan yang jauh.Semoga ikonmu saja yang terkikis ruang, janji-janji Sang Diplomat jangan. Karena ada ratusan rakyat yang menuggu perbaikan nasib.
Ada harap pada sabda-sabda sebelum kau menjadi dalang.

Semoga tak berbuah kehampaan.
Kemegahan gedung mewah dan deretan mesin pelat merah yang menawan
menambah kesan dan pesan agar pemimpin tak tidur tenang. Disekitar masih banyak kemiskinan, jangan abai atau berpura kebingungan karena kau adalah harapan banyak orang.

Dahulu hingga sekarang, Pinisi ta’ menerpa gulungan ombak disamudera lautan. Hamparan laut biru dan petualang yang penuh menggertak diperantara nusantara. Memberi semangat petualang, menyeruak di sengkarut lautan. Semoga lagak sang diplomat masih sama dengan Pinisi’ta
meski ikon bertukar mungil, jangan bersikap tengil apalagi kerdil.

(Malang 11 Desember 2017)

Keterangan:
Pinisi adalah kapal tradisional Sulawesi Selatan yang di gunakan oleh para nelayan dan pelaut untuk mengarungi lautan. Kata Ta’ adalah prase dalam aksen Bugis Makassar yang berarti Kita.

Peternak Rindu

Di jalan yang temaram menapaki hilang hingga malam. Waktu berjalan tersendat berharap tatap pada kelopak yang masih ku ratap. Di sela-sela hujan yang kedinginan, ada lengan yang kesepian.
Namun masihkah kau enggan ditemukan
sementara kedinginan tak pernah ku inginkan?

Jejak-jejak kaki kepergian adalah satu-satunya harapan agar kau kutemukan
juga selalu aku semogakan. Rinai rintik hujan pada mata-malam yang kian memudar. Derai bising kota pada mereka yang pulang, sementara kau yang pergi. Sore menjelang malam, masihkah kau enggan untuk pulang? Aku masih di jalan, dan menyamarkan senyum yang kian memudar.

Jika kau lelah karena hujan atau ingin pulang setelah lelah berpetualang dengan seseorang, aku akan menuntunmu kembali ke pelukan.
Aku masih sama, seorang peternak rindu yang menadah hujan dalam kesepian.
Tanpa tahu benih apa yang akan tumbuh kemudian.

(Malang, Desember 2017)

Puisi dan Diri Sendiri

Semalam sebelum mata terpejam,
aku mendengarkan puisi sangat banyak dan panjang. Indah, baik hati, sopan namun menikam.  Deretan kata demi kata ia susun dengan racun kata-kata.
Aku bahkan dibangun-tidurkan oleh puisi-puisi itu.

Pemilahan diksi yang sangat akurat.
Entah kenapa mereka sangat lihai memilah kata. Ia pula hati-hati katanya, takut terbunuh di rimbunnya kisah.
Ia juga takut tersesat di belantara kata-kata lalu lupa jalan pulang. Aku membayangkan tubuhku tercipta dari ribuan susunan kata.

Tangan dan kakiku dari lelehan kesedihan. Sementara mata, hati, jari dan intuisi lahir dari ibu puisi. Kepalaku tercipta dari cairan kata dari penyair yang mahir menyamarkan luka. Sementara alisku dari kumpulan tanda baca yang tidak bisa membedakan mana titik, mana koma, mana saat untuk berhenti, mana tanda beristirahat sejenak dari riuh kasih orang-orang yang pergi. Pukul empat aku terbangun. Angka dimana subuh menjadi deretan doa pada lantunan kerentanan dalam kehidupan orang-orang. Aku bangun bukan berdoa. Bukan juga melangkah kesana.

Mungkin hanya mengingat kau, nona.
Mengingat dimana kita saling  membasahi tubuh saat subuh dari dosa saat usai menindih tubuh. Aku mengingat ini dan memilih untuk menuliskannya, karena yang setia selain diri sendiri, hanyalah puisi.

(Malang, 29 Nopember 2017)

BIODATA PENULIS

41 sajak senja adalah nama pena dari Si Peternak Rindu, Arwin Saputra. Lahir di Bulukumba, 23 Maret 1992. Sekarang berdomisili di Kota Denpasar, Bali. Pernah tercatat sebagai mahasiswa  Jurusan Ilmu Peternakan, Fakultas Sains dan Tekhnologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Di kampus yang sama, ia aktif dalam kegiatan berkesenian di UKM Seni Budaya eSA. Saat ini ia tengah giat memperpanjang ide dan wacana utopisnya dengan menulis di blognya.


Jejaknya bisa di lacak melalui email
Bebioposisi@gmail.com atau website bebiisaputra.wordpress.com. Setelah ini, esok apa lagi?

Artikel Lainnya
Load More By rightnewskendari
Load More In Kolom Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Baca Juga

Seven Media Asia, Nobatkan Gubernur Sultra Sebagai The Best Indonesian Innovative Figures Awards 2020

KENDARI, RIGHTNEWS.COM – Seven Media Asia kembali menggelar The Best Indonesian Inno…